Minggu, 24 Januari 2010

Mau Kemana Pansus Century

Pansus Century sudah berjalan beberapa bulan ini. Sudah banyak saksi dipanggil, keterangan yang diperoleh pun tidak sedikit. Namun sayangnya pansus ini masih belum berhasil menemukan titik terang untuk menyelesaikan kasus Century. Temuan-temuan yang ada justru menimbulkan asumsi-asumsi baru yang mengaburkan inti permasalahan.
Saya sendiri tidak terus menerus mengikuti sidang ini, tapi bagi saya kelihatan sekali bahwa kepentingan partai sangat mempengaruhi kinerja pansus. Saat saksi yang dipanggil mewakili kepentinga partai yang sama maka terjadi konflik antar anggota pasus. Biarpun konflik yang terjadi bukan konflik bukan konflik terbuka hanya berupa tekanan terhadap saksi dari kepentinga yang berbeda tapi saya rasa itu sangat megganggu kinerja pansus. Satu lembut terhadap yang ini dan agresif terhadap yang lain.
Dan satu lagi yang menurut saya penting adalah mau dibawa kemana pansus ini. Seperti yang telah umum diketahui, pansus masih berdebat pada apakah efek kebijakan ini sistemik atau tidak. Bagi saya yang terpenting sekara buka sistemik atau tidak, sesuai undag-undak atau tidak, tapi bagaimana mengungkap kemanakah larinya uang senilai 6,7 triliun itu.
Pansus kini masih terus memanggil saksi-saksi baik saksi baru maupun memaggil kembali saksi-saksi yang sudah-sudah. Bagi saya yang terpeting sekarang ini adalah segera menyelesaikan kasus ini. Kepentingan partai harusnya di kesampingkan demi memenuhi harapan rakyat untuk menyelesaikan kasus ini.

Sabtu, 09 Januari 2010

Tentang Pahlawan?

Gus Dur memang baru saja meninggal dunia. Sepeninggal sosok yang kontroversial ini muncul wacana pmebrian gelar pahlawan kepada beliau. saya pun setuju akan usulan ini. Sosok yang satu ini selalu konsisten akan idenya tentang pluralisme dan persamaan hak, sosok yang satu ini sangat menjunjung tinggi penegakan HAM.

Tapi kita sepertinya lupa dengan sosok lain yang juga pantas menyandang gelar pahlawan, dia adalah Soeharto presiden kedua republik yang besar ini. Dan ternyata benar dugaan saya waktu itu. Pada sidang DPR yang membahas pemberian gelar untuk Gus Dur, nama pak Harto juga di sebut. Memang dalam sidang itu usulan pemberian gelar ini masih dipertimbangkan. Namun saat gelar pahlawan untuk Gus Dur bakal mudah terealisasikan, gelar untuk pak Harto sepertinya masih harus menunggu lama karena beliau dianggap masih mempunyai dosa kepada bangsa ini.Pak Harto memang pernah punya salah, tapi sepertinya sudah saatnya kita memaafkan beliau toh orang yang ingin kita mintai pertanggungjawabannya ini sudah meninggal, jadi tidak ada salahnya kita meluluskan pemberian gelar untuk beliau juga.

Bagi saya sendiri kedua sosok ini pantas diberi gelar pahlawan karena mereka mempunyai jasanya masing-masing. Mereka berdua adalah guru bangsa yang punya keteladanannya masing-masing yang patut kita hargai. bagi saya mereka adalah Pahlawan dengan atau tanpa gelar.

Jumat, 08 Januari 2010

Mobil Baru Siapa Tak Mau?

Siapa sih yang tak mau dapat mobil baru, mewah, gratis dan ditanggung pemerintah pula? Mungkin itulah yang dirasakan oleh para menteri dan pejabat setingkatnya sekarang ini. Tapi jangan salah, ternyata ada pejabat kita yang menolak mobil mewah yang katanya dihargai 1,3 M itu. Ya ia adalah Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah ( DPD ) La Ode Ida. Saya salut ternyata masih ada pejabat kita yang masih punya malu. Dia tidak mau menerima mobil Toyota Crown Royal Saloon tersebut karena malu pada rakyat yang masih hidup kekurangan. Sungguh luar biasa anggota DPD kita yang satu ini.

Kalo dipikir-pikir aneh juga ya, koq para menteri dan pejabat kita yang lain mau menerima mobil ini, padahal kalo dipikir mereka hanya sebentar menggunakan mobil itu, dari rumah ke kantor, dari kantor ke rumah dan pastinya hanya kunjungan di sekitar Jakarta saja, jika mereka kunjungan keluar daerah pasti akan disediakan mobil lain. Coba anda bayangkan siapa yang sebenarnya menggunakan mobil itu paling lama. Jawabannya adalah Supir menteri tersebut, betul kan?. Kalau para menteri itu tahu malu, mereka harusnya naik sepeda motor yang bisa melibas kemacetan jakarta sehingga mereka tidak terlambat ngantor. dan kalau perlu mereka harusnya naik Busway untuk mengurangi volume kendaraan di Ibukota yang sudah kondang macetnya.

Tapi apa daya, mobil sudah dibeli dan diserahkan. Sekarang tinggal menunggu saja apakah masih ada pejabar kita yang akan mengembalikan mobil dan mengikuti jejal La Ode Ida.

Olahraga dan Semangat Kebangsaan Kita

Rabu kemarin, tiap pecinta olahraga di tanah air pasti tidak melewatkan pertandingan sepakbola antara Indonesia melawan Oman. Memang dalam pertandinga itu Indonesia kalah 1-2 dan dipastikan tersingkir dari Piala Asia. Namun ada hal lain yang lebih menarik dan luar biasa pada pertandingan itu, ada seorang penonton yang lari masuk ke lapangan dan berusaha membobol gawang Oman. Henry Mulyadi adalah nama orang itu. Kejadian ini disayangkan oleh beberapa pihak karena mencoreng nama persebakbolaan Indonesia dan membuat PSSI diancam denda dari Federasi Sepakbola Dunia atau FIFA.

Namun ada hal lain yang lebih penting dari semua itu, yang saya lihat kemarin adalah bentuk nasinalisme yang menggebu-gebu dari Henry, kesal karena tim nasionalnya kalah Henry kemudian melampiaskan kekesalannya. Nasionalisme yang katanya telah luntur itu ternyata masih ada.

Sepertinya cuma di bidang olahraga sajalah kita bisa melihat nasionalisme semacam ini. Bukan cuma dari suporter para atletpun menunjukkan Nasionalisme yang sama saat membela bangsa ini. Bukan hanya di cabang sepakbola tapi juga di cabang lain seperti Bulutangkis dan tinju. Maka wajarlah bila Taufiq Hidayat menangis saat lagu kebangsaan kita berkumandang di pentas Olimpiade, atau bagaimana ekspresi kegembiraan Suryo Agung Wibowo yang berlari sambil mengibarkan bendera merah putih saat mencatatkan namanya sebagia yang tercepat di Asia Tenggara. Mereka adalah bukti bahwa semangat kebangsaan kita belum luntur.

Olahraga sepertinya sudah jadi satu-satunya saluran yang kita miliki untuk memperlihatkan semangat nasionalisme kita. Saat perekonomian sedang sulit dan para politikus tengah sibuk mencari kekuasaan, dunia olahraga hadir dan mempersatukan kita sebagai bangsa yang besar, olahraga mampu membangkitkan spirit nasionalisme kita. Karena itu marilah kita dukung terus dunia olahraga kita. BRAVO olahraga Indonesia!!!!!

Anggota Dewan yang " Terhormat "

Belakangan ini media kita sedang sibuk memperlihatkan tayangan 2 anggota DPR kita yang saling hujat dan menghina satu sama lain dalam sebuah sidang. Dalam sidang yang membahas Angket Bank Century tersebut Gayus Lumbuan dari Fraksi PDIP yang meminpin sidang terlibat adu mulut dengan Ruhut Sitompul dari Fraksi Demokrat. Kejadian semacam ini bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya sudah sering terjadi adu mulut bahkan adu jotos antar anggota DPR kita.

Dulu saya memaklumi hal tersebut karena menurut saya waktu itu "loh mereka kan bersitegang demi menyuarakan kepentingan rakyat, mereka beradu argumen untuk membuat keputusan yang menentukan nasib rakyat banyak jadi biarkan saja mereka adu mulut atau bahkan adu jotos toh itu juga buat kesejahteraan kita". Tapi setelah melihat tayangan yang kemarin saya langsung menarik ucapan saya diatas. Yang terlihat kemarin adalah 2 orang dewasa yang tak ubahnya bocah sedang bertengkar gara-gara permennya kurang.

Satu hal lain yng mebuat saya kecewa, mereka berdua adalah anggota pansus yang sama-sama bertugas mengungkap skandal Bank Century. Mereka harusnya bekerja sebagai sebuah tim yang kompak agar kasus ini bisa segera diselesaikan bukannya malah saling ejek dan hujat.

Jadi marilah kita berharap agar para anggota dewan yang katanya terhormat ini mampu membenahi sikap dan perilaku mereka dan mampu kembali bekerjasama agar Pansus Angket Century ini bisa segera diselesaikan seperti harapan rakyat yang kayanya mereka wakili.